Kaitan Antara Rezeki dan Bertaubat

Kaitan Antara Rezeki dan Bertaubat

Agar rezeki semakin bertambah dan barakah, hendaknya seseorang menempuh jalan taubat kepada Allah Swt. Ini adalah solusi yang sering dianggap aneh oleh sebagian orang. Mereka beranggapan bahwa sama sekali tidak ada kaitan antara bertambahnya rezeki dengan bertaubat. Baiklah, dalam risalah sederhana ini, saya ingin mengajak pembaca untuk memahami bahwa ada kaitan erat antara bertambahnya rezeki dengan taubat. Apalagi, bagi seorang muslim, yang diharapkannya bukan hanya bertambahnya rezeki semata, tetapi juga ada nilai barakah dari Allah Swt.

Dalam hal ini, marilah kita perhatikan hadits Nabi Saw. berikut, “Tiada sesuatu yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tiada yang dapat menambah umur kecuali amal kebajikan. Sesungguhnya seorang diharamkan rezeki baginya disebabkan dosa yang diperbuatnya.” (HR. Tirmidzi dan Hakim).

Berdasarkan sabda Rasulullah Saw. tersebut, kita menjadi tahu bahwa perbuatan dosa yang dilakukan oleh seseorang bisa menyebabkan rezeki haram baginya. Hadits ini bila dipahami secara apa adanya, kita bisa menjadi bertanya, bukankah di dalam kehidupan dunia ini banyak sekali orang yang masih saja melakukan perbuatan dosa, tetapi rezekinya juga melimpah, bahkan semakin hari semakin saja bertambah kaya.

Saudaraku tercinta, dalam hal ini, kita dapat memahami bahwa rezeki yang dimaksud adalah rezeki yang diridhai-Nya, atau rezeki yang mengandung barakah. Sebab, bisa saja dengan cara menipu seseorang bisa mendapatkan keuntungan materi. Bisa saja seseorang korupsi lantas dia menjadi kaya; rumahnya bagus, mobilnya mewah, dan sebagainya. Tetapi, apakah rezeki yang diperoleh dengan tidak halal itu adalah rezeki yang diridhai-Nya, atau rezeki yang barakah? Tentu saja tidak.

Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila kamu menyaksikan pemberian Allah dari materi dunia atas perbuatan dosa menurut kehendak-Nya, maka sesungguhnya itu adalah uluran waktu dan penangguhan tempo belaka.” Kemudian Rasulullah Saw. membaca firman Allah Swt. dalam surat al-An’aam ayat 44: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (HR. Ahmad dan Thabrani).

Sudah barang tentu, kita semua berharap agar rezeki yang kita terima adalah rezeki yang barakah. Untuk apa rezeki kita semakin melimpah, tapi kita jauh dari kebahagiaan yang sesungguhnya, yakni bahagia karena kita mendapat ridha-Nya. Bukankah rezeki yang kita peroleh di dunia, kita juga berharap agar bisa menjadi sarana untuk menggapai kebahagiaan di akhirat. Maka, jalan taubat adalah jalan yang mesti kita tempuh. Memohon ampun kepada Allah Swt. adalah jalan yang harus kita lalui agar kita mendapatkan rahmat dari Allah ‘Azza wa Jalla. 


(151)
PENTINGNYA SILATURAHMI

Dari Abu Hurairah r.a., Rosulullah s.a.w bersabda, “Ada seorang laki-laki bersilaturahim ke saudaranya yang tinggal di desa lain, maka Allah mengutus seorang Malaikat untuk menemuinya. Tatkala bertemu dengan lelaki tersebut maka malaikat bertanya, “Hendak kemanakah saudara?” Lelaki tersebut menjawab, “Saya ingin bersilaturahim ke saudaraku di desa ini.” Malaikat kembali bertanya, “Apakah kamu menziarahinya karena ada sesuatu kenikmatan yang akan engkau raih?“ Lelaki tersebut menjawab, “Tidak, saya melakukan silaturahim ini semata-mata kecintaan saya terhadapnya karena Allah.” Malaikat kemudian berkata, “Sesungguhnya saya diutus Allah untuk menemui kamu untuk menyampaikan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim). Dalam salah satu perintah-Nya, Allah s.w.t. berfirman QS. An Nisa’ [4]:1, “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu..” Dan pada ayat lainnya Allah menguatkan, QS. Ar Ra’d [13]:21 “Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” Bahkan Rosulullah s.a.w. menandaskan bahwa hanya orang-orang yang beriman kepada Allah swt dan hari akherat yang paling gigih menerapkannya. Dari Abu Hurairah r.a. sesungguhnya Rosulullah s.a.w. bersabda “… barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akherat maka lakukanlah silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Dalil di atas merupakan landasan syar’i akan perlunya silaturahim antar anggota masyarakat bahkan perintah yang semestinya kita terapkan. Dan bila kita kembali mengkaji dan mentadaburi pedoman hidup kita (Al Qur`an dan As Sunah), maka Allah dan Rosul-Nya tidak semata memerintahkan umatnya untuk menerapkan perintahnya tanpa memberi tahu keutamaan pelaksanaannya dan ancaman meninggalkan atau memutus hubungan silaturahmi. Keutamaan silaturahmi Diantara keutamaan yang akan diraih oleh orang yang selalu melakukan silahturahmi : 1. Akan diluaskan rizkinya. Rosulullah saw bersabda, ﻣَﻦْﺃَﺣَﺐﱠﺃَﻥْﻳُﺒْﺴَﻂَﻟَﻪُﻓِﻲْﺭِﺯْﻗِﻪِﻭَﻳُﻨْﺴَﺄَﻟَﻪُﻓِﻲْﺃَﺛَﺮِﻩِﻓَﻠْﻴَﺼِﻞْﺭَﺣِﻤَﻪُ
( ﺭَﻭَﺍﻩُﭐﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱﱡﻭَﻣُﺴْﻠِﻢٌﻭَﺃَﺑُﻮْﺩَﺍﻭُﺩَﻋَﻦْﺃَﻧَﺲٍﺭﺽ ) “ Barang siapa yang suka diluaskan rizki dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud) 2. Akan diperpanjang umurnya. 3. Akan selalu berhubungan dengan Allah swt. Dari ‘Aisyah ra berkata, Rosulullah saw bersabda, : ﭐﻟﺮﱠﺣِﻢُﻣُﻌَﻠﱠﻘَﺔٌﺑِﺎﻟْﻌَﺮْﺵِﺗَﻘُﻮْﻝُﻣَﻦْﻭَﺻَﻠَﻨِﻲْﻭَﺻَﻠَﻪُﭐﷲُﻭَﻣَﻦْﻗَﻄَﻌَﻨِﻲْﻗَﻄَﻌَﻪُﭐﷲُ ( ﻣُﺘﱠﻔَﻖٌﻋَﻠَﻴْﻪِ ) "Silaturahmi itu tergantung di `Arsy (Singgasana Allah) seraya berkata: "Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya" (HR. Bukhari dan Muslim) 4. Akan dimasukan kedalam golongan yang beriman kepada Allah dan hari akherat. Dari Abu Hurairah r.a. sesungguhnya Rosulullah s.a.w bersabda, Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akherat maka lakukanlah silaturahmi (HR. Bukhari dan Muslim). Sedangkan ancaman dan akibat yang akan didapat oleh orang yang memutus hubungan silaturahmi sbb : 1. Akan terputus hubungannya dengan Allah swt. Rosulullah saw bersabda, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya" (HR. Bukhari, dan Muslim).2 Tidak termasuk golongan yang beriman kepada Allah swt dan hari akherat. 3. Akan sempit rizkinya. 4. Akan pendek umurnya. 5. Akan dilaknat oleh Allah dan dimasukan kedalam neraka jahanam. QS. Ar Ra’d [13] :25 “Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).” QS. Muhammad [47] :“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” Mereka itulah orang-orang yang dila’nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” 6. Tidak masuk surga. Dari Abu Muhammad Jubair bin Mut’im ra sesungguhnya 


Rosulullah saw bersabda, ( ﻣُﺘﱠﻔَﻖٌﻋَﻠَﻴْﻪ ) ﻻَﻳَﺪْﺧُﻞُﭐﻟْﺠَﻨﱠﺔَﻗَﺎﻃِﻊٌ “Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Etika silaturahmi Dalam melakukan silaturahmi kitapun harus memperhatikan beberapa etika silaturahmi sehingga membuahkan faidah yang baik bagi kedua belah pihak dan tidak mendzolimi teman yang kita ziarahi. Diantara etika tersebut : 1. Silaturahmi yang dilakukan semata-mata karena Allah swt bukan karena dunia atau tujuan lainnya. Mungkin kisah diatas merupakan gambaran nyata sebagai barometer suri tauladan. 2. Berpakaian yang menutup aurat 3. Membawa hadiah untuk saudara yang akan diziarahi. Rosulullah saw bersabada, Saling berbagi hadiahlah diantara kalian maka kalian akan saling mencintai. 4. Memperhatikan waktu silaturahmi. bila kita ingin bersilaturahmi maka kita harus memperhatian objek yang kita akan diziarahi, karena antar individu berbeda dalam jadwal kerja dan aktivitas. Mungkin di antara mereka ada yang bisa menerima tamu pada waktu asar namun diantara mereka tidak bias menerimanya. 5. Bersikap dan bertutur kata yang sopan, tidak menampilkan sikap acuh atau mencela makanan yang dihidangkan. ماعاب رسول الله صلى الله عليه وسلم طعاما قط إن اشتهاه اكله وإن كره تركه ( الحديت ) Artinya : Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan, jika beliau suka dimakannya, dan jika tidak maka ditinggalkannya. 6. Jika menginap usahakan jangan sampai lebih dari 3 hari, jangan sampai mengganggu atau menyulitkan tuan rumah. Rasulullah SAW bersabda ولا يحل لمسلم إن يقيم عند أخيه حتى يؤ ثمه قالوايارسول الله: وكيف يؤ ثمه؟ قال أن يقيم عنده ولآ شيئ له يقريه به ( رواه مسلم ) Artinya : Tidak halal bagi seorang muslim di rumah saudaranya ( bertamu ) yang menyebabkan dia ( tuan rumah ) berdosa. Sahabat bertanya,”Bagaimana menyebabkan berdosa?”. Nabi menjawab, “Tinggal di rumahnya padahal engkau mengetahui bahwa dia tidak memiliki apa-apa yang dihidangkannya ( H.R Muslim ). الضياﻓَﺔُ ثلاثة أيام ( رواه البﺨَﺎ ري ومسلم ) Artinya : Bertamu itu selama 3 hari. ( H.R Bukhari dan Muslim ) Semoga Silaturahmi Antara Kita Bisa Terus Dilaksanakan......Aamiin!!!!!!
( oleh : fb komunitas wanita sholehah )

NASA sembunyikan Fakta Ilmiah Lailatul Qadar


Alasan NASA Menyembunyikan Kenyataan Ilmiah Lailatul Qadar

Entah apa tujuan Badan Antariksa dunia ini yang menutupi fakta ilmiah tentang malam Lailatul Qadar.Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Quran dan Sunnah di Mesir,Dr Abdul Basith As-Sayyid pun membeberkan apa yang telah di tutup-tutupi Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) ini.

Penemuan NASA kala itu sesuai dengan hadits Nabi bahwa malam Lailatul Qadar adalah “baljah” (بَلْجَة);tingkat suhunya sedang),tidak ada bintang atau meteor jatuh ke atmosfer bumi,dan pagi harinya matahari keluar dengan tanpa radiasi cahaya.

Sayyid menegaskan,terbukti secara ilmiah bahwa setiap harinya ada 10 bintang dan 20 ribu meteor yang jatuh ke atmosfer bumi, kecuali malam Lailatul Qadar dimana tidak ada radiasi cahaya sekalipun dan sekecil apapun.

Hal yang lebih mengejutkan lagi,NASA telah menyembunyikan hal ini selama 10 tahun.Terungkap ketika penemuan ini sudah ditemukan Badan Antariksa NASA 10 tahun lalu.Tapi mereka tidak ingin mempublikasikannya dengan alasan agar non Muslim tidak tertarik masuk Islam.

Dalam sebuah program di TV Mesir,Sayyid juga menegaskan, pakar Carner yang menjadi juru bicara pun akhirnya masuk Islam dan harus kehilangan jabatan tingginya di NASA.

Setelah Carner masuk Islam,ia pun membeberkan fenomena “mencium Hajar Aswad” atau mengisyaratkan bahwa batu itu merekam semua orang yang melambaikan tangan atau menciumnya.

Carner juga mengungkapkan tentang sebagian potongan Hajar Aswad yang pernah dicuri.

Setelah 12 tahun diteliti,seperti dilansir voa-islam yang dikutip dari tribun,seorang pakar museum Inggris menegaskan bahwa batu tersebut bukan dari planet tata surya Matahari.

Ia menemukan bahwa batu itu memancarkankan gelombang pendek sebanyak 20 radiasi yang tidak terlihat ke segala arah. Yang lebih mengejutkan,setiap radiasi menembus 10 ribu kaki.
Karena itu,Imam Syafi’i menyatakan bahwa Hajar Aswad mencatat nama setiap orang yang mengunjunginya baik dalam haji atau umroh meskipun hanya sekali.

 Diterbitkan tanggal 7 Jul 2015

NASA sembunyikan Fakta Ilmiah Lailatul Qadar

BERTEMAN DENGAN TUHAN

Berteman dengan TUHAN

Ketahuilah bahwa teman yang tidak akan meninggalkanmu ketika engkau di rumah dan bepergian, ketika engkau tidur dan terjaga, bahkan ketika hidup dan mati adalah maha pencipta. Ketika engkau mengingat-Nya, maka seketika Ia akan menjadi teman dudukmu. 

Firman Allah, ana jaliisu man dzakaroni (Aku adalah teman duduk orang yang mengingat-Ku). Jika kita bersedih hati akan kekurangan dan keteledoran kita dalam melaksaanakan perintah Allah maka Ia akan menjadi sahabat penghibur kita. Firman Allah, ana ‘indal munkasaroti qulubuhum min ajli (Aku bersama dengan orang-orang yang bersedih hati karena-Ku). 
Sesungguhnya jika engkau mengetahui Allah dengan pengetahuan yang sebenarnya maka engkau akan menjadikan-Nya sebagai teman dan engkau akan mengenyampingkan para makhluk. Apabila engkau tidak mampu bersama dengan Allah dalam semua waktumu, maka sisakanlah sedikit saja waktumu dari siang atau malammu untuk bermunajat dan bercinta dengan tuhanmu. 

Dan ketika engkau ingin bercinta dengan tuhan, maka engkau harus mengetahui adab-adabnya. Yaitu, menundukkan kepala, memejamkan mata, berusaha fokus, banyak diam, menenangkan badan, segera melaksanakan perintah, menjauhi larangan, tidak menolak takdir, selalu mengingat Allah, selalu berfikir, mendahulukan kebenaran atas kebathilan, tidak berharap kepada makhluk, merunduk akan wibawa Allah, tidak bergantung kepada usaha yang dilakukan karena percaya akan fadhol (kemuliaan) Allah, dan bertawakal kepada Allah. pakaian-pakaian adab inilah yang seharusnya kita pakai pada waktu siang dan malam kita. Karena itu semua adalah adab-adab bersama dengan teman sejati yang tidak akan pernah meninggalkan kita. Sedangkan semua makhluk akan meninggalkan kita di separoh waktu kita. (minhaajul ‘abidiin, Hujjatul Islaam Abi Hamid al-Ghozali).
 

MENYINGKAP TABIR ANGKA 7 DALAM ISLAM


Angka tujuh/ 7 itu mempunyai rahasia yang sangat besar dan kedudukan yang agung di sisi Allah Swt.

Dalam Agama Islam, Angka 7 ada di dalam surah pertama dalam Al-Qur’an, Al-Fatihah mempunyai 7 ayat. Kalimah Syahadat dalam Laa Ilaaha ilaa Allaah, Muhammad rasul Allah terdiri dari 7 kata. Menurut Al-Qur’an Tuhan menciptakan langit dan bumi menjadi 7 lapis. Lalu Thawaf mengelilingi Ka’bah di Mekkah dilakukan sebanyak 7 kali, demikian juga dengan lari lari kecil (Sa’i) antara Shafa dan Marwah.

Pada akhir haji, dekat Mina, syetan di lepar dalam 3 kali masing masing dengan 7 buah kerikil kecil yang lazim disebut (melempar jumroh). Angka 7 juga disukai oleh kaum Sufi. Tasawuf memperbincangkan 7 Lathaaif, atau titik titik subtil pada tubuh tempat kaum Sufi memusatkan kekuatan spiritualnya.

1). Allah menghiasi Udara ini dengan 7 Lapis Langit sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An Naba’ ayat 12, “Dan Kami (Allah) jadikan di atas kamu tujuh (langit) yang kukuh.” Kemudian Allah menghiasi langit itu dengan Tujuh Bintang. Tujuh Bintang yang dimaksud adalah : Bintang Zuhal, Bintang Musytari, Bintang Marikh, Bintang Syamsu, Bintang Zahro, Bintang Athorid, dan Bintang Qomar. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al Hijr ayat 16, "Dan sungguh Kami telah menjadikan gugusan bintang di langit dan Kami telah menghiasinya bagi orang-orang yang memandangnya.”

2). Allah telah menghiasi padang (tanah) yang lapang dengan Tujuh lapis Bumi. Rasulullah SAW pernah menjelaskan : Para penghuni Bumi Lapisan ke-7 adalah golongan Malaikat, Pada lapisan ke-6 di huni oleh Iblis dan para pembantunya, Pada lapisan bumi ke-5 di huni oleh setan-setan, Pada lapisan ke-4 di huni oleh ular-ular, Pada lapisan ke-3 di huni oleh kalajengking, pada lapisan ke-2 oleh jin-jin, dan Pada lapisan pertama adalah Manusia. Kemudian Allah menghias bumi itu dengan tujuh lautan.

3). Allah telah menghiasi neraka dengan Tujuh Tingkatan, yaitu : Jahannam, Sa’ir, Saqor, Jahim, Huthomah, Ladhoo dan Haawiyah. Kemudian Allah menghiasi pula dari tiap-tiap neraka dengan tujuh Pintu. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al Hijr ayat 44, "Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka."

4). Allah menghiasi Al-Qur’an (Kitab suci umat Islam) dengan Tujuh surat panjang, Yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maaidah, An-Nissa', Al 'Araaf, Al An'aam dan Al-Anfaal atau At-Taubah. Kemudian Allah menghiasinya pula dengan Tujuh ayat Ummul kitab (Al-Fatihah/Pembuka kitab). Sebagaimana Firman Allah dalam Surat AL Hijr ayat 87, "Dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung."

5). Allah menghias manusia dengan tujuh anggota badan, yaitu dua tangan, dua kaki, dua lutut, dan satu wajah. Kemudian Allah menghiasinya, dengan tujuh peribadatan, yaitu : dua tangan dengan doa, dua kaki dengan berkhidmat, dua lutut dengan duduk, dan wajah (muka) dengan sujud.

6). Firman Allah dalam Surat AL Hijr ayat 87, “Dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung.”Allah menghias umur manusia dengan tujuh tingkatan / tahapan. Pada masa baru lahir dinamakan tahapan rodhi’ (Menyusu), kemudian tahap fa thim (disapih), tahapan Shobiyyi (bayi), tahapan ghulam (masa kanak-kanak), kemudian tahapan syaab (pemuda/remaja), kemudian tahapan kuhul (yakni menginjak usia antara 30-50 tahun), dan menginjak tahapan Syaikh (masa tua).

7). Allah menghias umur manusia dengan tujuh tingkatan / tahapan. Pada masa baru lahir dinamakan tahapan rodhi’ (Menyusu), kemudian tahap fa thim (disapih), tahapan Shobiyyi (bayi), tahapan ghulam (masa kanak-kanak), kemudian tahapan syaab (pemuda/remaja), kemudian tahapan kuhul (yakni menginjak usia antara 30-50 tahun), dan menginjak tahapan Syaikh (masa tua).



angka tujuh itu mempunyai rahasia yang sangat besar dan kedudukan yang agung di sisi Allah. © Allah menghiasi Udara ini dengan 7 Lapis Langit sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An Naba’ ayat 12, “Dan Kami (Allah) jadikan di atas kamu tujuh (langit) yang kukuh.” Kemudian Allah menghiasi langit itu dengan Tujuh Bintang. Tujuh Bintang yang dimaksud adalah : Bintang Zuhal, Bintang Musytari, Bintang Marikh, Bintang Syamsu, Bintang Zahro, Bintang Athorid, dan Bintang Qomar. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al Hijr ayat 16, "Dan sungguh Kami telah menjadikan gugusan bintang di langit dan Kami telah menghiasinya bagi orang-orang yang memandangnya.” © Allah telah menghiasi padang (tanah) yang lapang dengan Tujuh lapis Bumi. Rasulullah SAW pernah menjelaskan : Para penghuni Bumi Lapisan ke-7 adalah golongan Malaikat, Pada lapisan ke-6 di huni oleh Iblis dan para pembantunya, Pada lapisan bumi ke-5 di huni oleh setan-setan, Pada lapisan ke-4 di huni oleh ular-ular, Pada lapisan ke-3 di huni oleh kalajengking, pada lapisan ke-2 oleh jin-jin, dan Pada lapisan pertama adalah Manusia. Kemudian Allah menghias bumi itu dengan tujuh lautan. © Allah telah menghiasi neraka dengan Tujuh Tingkatan, yaitu : Jahannam, Sa’ir, Saqor, Jahim, Huthomah, Ladhoo dan Haawiyah. Kemudian Allah menghiasi pula dari tiap-tiap neraka dengan tujuh Pintu. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al Hijr ayat 44, "Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." © Allah menghiasi Al-Qur’an (Kitab suci umat Islam) dengan Tujuh surat panjang, Yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maaidah, An-Nissa', Al 'Araaf, Al An'aam dan Al-Anfaal atau At-Taubah. Kemudian Allah menghiasinya pula dengan Tujuh ayat Ummul kitab (Al-Fatihah/Pembuka kitab). Sebagaimana Firman Allah dalam Surat AL Hijr ayat 87, "Dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung." © Allah menghias manusia dengan tujuh anggota badan, yaitu dua tangan, dua kaki, dua lutut, dan satu wajah. Kemudian Allah menghiasinya, dengan tujuh peribadatan, yaitu : dua tangan dengan doa, dua kaki dengan berkhidmat, dua lutut dengan duduk, dan wajah (muka) dengan sujud. © Allah menghias umur manusia dengan tujuh tingkatan / tahapan. Pada masa baru lahir dinamakan tahapan rodhi’ (Menyusu), kemudian tahap fa thim (disapih), tahapan Shobiyyi (bayi), tahapan ghulam (masa kanak-kanak), kemudian tahapan syaab (pemuda/remaja), kemudian tahapan kuhul (yakni menginjak usia antara 30-50 tahun), dan menginjak tahapan Syaikh (masa tua). © Allah menghiasi dunia ini dengan tujuh negeri yang besar, yaitu : 1) Hindustan, 2) Hijaz, 3) Badiyah dan Kufah, 4) Irak, Syam,(Siria), Khurasan sampai Balakh, 5) Roma dan Armenia, 6) Negeri Ya’juj dan Ma’juj, dan 7) Cina Turkistan.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
angka tujuh itu mempunyai rahasia yang sangat besar dan kedudukan yang agung di sisi Allah. © Allah menghiasi Udara ini dengan 7 Lapis Langit sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat An Naba’ ayat 12, “Dan Kami (Allah) jadikan di atas kamu tujuh (langit) yang kukuh.” Kemudian Allah menghiasi langit itu dengan Tujuh Bintang. Tujuh Bintang yang dimaksud adalah : Bintang Zuhal, Bintang Musytari, Bintang Marikh, Bintang Syamsu, Bintang Zahro, Bintang Athorid, dan Bintang Qomar. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al Hijr ayat 16, "Dan sungguh Kami telah menjadikan gugusan bintang di langit dan Kami telah menghiasinya bagi orang-orang yang memandangnya.” © Allah telah menghiasi padang (tanah) yang lapang dengan Tujuh lapis Bumi. Rasulullah SAW pernah menjelaskan : Para penghuni Bumi Lapisan ke-7 adalah golongan Malaikat, Pada lapisan ke-6 di huni oleh Iblis dan para pembantunya, Pada lapisan bumi ke-5 di huni oleh setan-setan, Pada lapisan ke-4 di huni oleh ular-ular, Pada lapisan ke-3 di huni oleh kalajengking, pada lapisan ke-2 oleh jin-jin, dan Pada lapisan pertama adalah Manusia. Kemudian Allah menghias bumi itu dengan tujuh lautan. © Allah telah menghiasi neraka dengan Tujuh Tingkatan, yaitu : Jahannam, Sa’ir, Saqor, Jahim, Huthomah, Ladhoo dan Haawiyah. Kemudian Allah menghiasi pula dari tiap-tiap neraka dengan tujuh Pintu. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al Hijr ayat 44, "Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." © Allah menghiasi Al-Qur’an (Kitab suci umat Islam) dengan Tujuh surat panjang, Yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maaidah, An-Nissa', Al 'Araaf, Al An'aam dan Al-Anfaal atau At-Taubah. Kemudian Allah menghiasinya pula dengan Tujuh ayat Ummul kitab (Al-Fatihah/Pembuka kitab). Sebagaimana Firman Allah dalam Surat AL Hijr ayat 87, "Dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung." © Allah menghias manusia dengan tujuh anggota badan, yaitu dua tangan, dua kaki, dua lutut, dan satu wajah. Kemudian Allah menghiasinya, dengan tujuh peribadatan, yaitu : dua tangan dengan doa, dua kaki dengan berkhidmat, dua lutut dengan duduk, dan wajah (muka) dengan sujud. © Allah menghias umur manusia dengan tujuh tingkatan / tahapan. Pada masa baru lahir dinamakan tahapan rodhi’ (Menyusu), kemudian tahap fa thim (disapih), tahapan Shobiyyi (bayi), tahapan ghulam (masa kanak-kanak), kemudian tahapan syaab (pemuda/remaja), kemudian tahapan kuhul (yakni menginjak usia antara 30-50 tahun), dan menginjak tahapan Syaikh (masa tua). © Allah menghiasi dunia ini dengan tujuh negeri yang besar, yaitu : 1) Hindustan, 2) Hijaz, 3) Badiyah dan Kufah, 4) Irak, Syam,(Siria), Khurasan sampai Balakh, 5) Roma dan Armenia, 6) Negeri Ya’juj dan Ma’juj, dan 7) Cina Turkistan.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ

KAROMAH WALI

(HABAIB LUTFI BIN YAHYA) : KAROMAH WALI 

“Karomah wali” bagian materi yang disampaikan oleh Habib lutfi dalam peringatan khaul Syaikh Abu Hasan Ali al-Syadlili di Desa Pajomblangan Kedungwuni.

Karomah yang dalam bahasa jawa disebut “keramat”,atau dalam istilah lain mukjizat,( pemakaian kata mukjizat ini aviliasinya lebih ke para Nabi maupun Rasul), sering disalah artikan. Banyak yang mengaviliasikan karomah ke suatu hal yang bersifat mistis, aneh, dan irasional. Status kewalian para wali yang hanya di pandang dari sudut bagamaiana seorang wali ini mampu melakukan hal-hal yang bersifat irasional tentunya bukanlah hal yang tepat, walupun keramat itu benar adanya, namun ini tidak bisa dijadikan justfikasi untuk membuktikan kewalian para wali.

Karena menurut Abah Lutfi seorang wali itu bukan hanya seorang yang mampu mengeluarkan keramat saja,keramat itu keluar pada waktu-waktu tertentu dan ketika dibutuhkan, kalau tidak dibutuhkan ya tidak bisa keluar. Dari sini kita juga harus melihat bagaiamana seorang wali berjuang dan terutama memberi maslahah, memberi solusi terhadap permasalahan-permasalahan ummat dan lain –lain.
Wali yang dibutuhkan dewasa ini bukanlah wali yang hanya berkeramat itu tadi, namun lebih ke bagaimana wali mampu memberi maslahah li al-Ummat, sejauh mana wali mampu memberi perubahan baik di bidang ekonomi dan lain-lain. Syaikh Abu Hasan Ali al-Syadlili ketika umur tujuh tahun sudah mampu memberi perubahan terhadap perekonomian menjadi bukti akan hal itu, wali songo yang sudah meninggal yang sampai sekarang masih bisa memberi kehidupan para pedagang disamping makam-makamnya pun juga sebuah bukti nyata akan kewalian para wali.


Mari kita lihat Rasulullah sendiri,mukjizat terbesarnya adalah al-Qur’an, mengapa tidak sebagaimana nabi Musa yang mempunyai mukjizat membelah laut dengan tongkat, bagi nabi Isa yang mempunyai mukjizat menyembuhkan orang sakit lepra hanya semata-mata dengan menjamah.
Maka timbullah pertanya’an, mengapa mukjizat nabi Muhammad hanya al-Qur’an yang dibaca, atau satu kitab yang dipelajari, bukan sebagaimana mukjizat yang mengagumkan akal? Mengapa tidak sebagaimana yang ada pada nabi Musa, Mengapa tidak api yang tidak menghangusi nabi Ibrahim, atau sebagai nabi Isa yang menyembuhkan orang buta dan lepra itu.


Orang-orang musyrikin di Makkah dahulupun pernah meminta supaya Nabi Muhammad Saw. menunjukan suatu mukjizat, misalnya bukit shafa menjadi emas, atau beliau sendiri mempunyai sebuah rumah dari emas, dan beberapa permintaan yang lain.. Tetapi permintaan mereka tidak dikabulkan oleh Allah atau tidak memandang itu lebih penting dari mukjizat al-Qur’an. Beberapa hadits sahih yang telah diriwayatkan dari sahabat beliau, bahwa beliapun pernah mempertujukkan mukjizat yang aneh-aneh dan ganjil, misalnya keluar air yang diminum oleh 1200 orang dari dalam timba beliau yang kecil di Hudaybiyah, atau hujan lebat disekitar kemah tentara saja dan tidak turun di tempat lain sehingga semuanya dapat menampung air, yang banyakinya 30.000 orang dalam perjalaanan kepeperanga Tabuk dan bebrapa mukjizat yang lain. Tetapi mukjizat-mukjizat yang demikian tidaklah beliau jadikan tantangan kepada kaum musyrikin. Beliau menentang lawan hanya dengan mukjizat al-Qur’an. Dengan al-Qur’an beliau mengokohkan risalatnya dan dengan al-Qur’an belaiu menambah iman pengikut-pengikut belaiu, kaum yang beriman, sampai hari kiamat.Mukjizat seorang Rasul ataupun seorang nabi selalu disesuaikan Tuhan dengan zaman hiduap Rasul atau Nabi itu sndiri, dan harus sesuai pula dengan macam-ragam risalat yang dibawanya. Apabila risalatnya itu adalah risalat yan g nyata untuk seluruh manusia, yang kekal dan tidak akan berubah lagi sampai selama-lamanya, hedaklah mukjizatnya itu yang kekal dan merata pula, yang kian mendalam orang berfikir, kian mengakui akan mukjizat itu.

Mukjizat sekali-kali tidak akan kekal, kalau dia hanya merupakan suatu kejadian yang dapat dilihat mata disuatu masa. Sebab apabila Rasul yang membawa mukjizat itu telah berpulang ke rahmatullah, mukjizat itu tidak akan bertemu lagi. Dan ada pula suatu kejadian yang dipandang mukjizat dizaman hidup nabi yang bersangkutan, namun setelah beberpa abad di belakang, mukjizat itu tidak ada lagi karena kemajuan ilmu pengetahuan. Sebab itu maka mukjizat yang diberikan kepada nabi Muhammad bukanlah mukjizat untuk dilihat mata dan panca indra (hissi), tetapi untuk dilihat hati dan meminta pemikiran (maknawi). Mukjizat hisi telah habis pengaruhnya dengan habis zamanya. Mukjizat Musa dan Isa hanya dilihat oleh manusia yang sezaman dengan beliau.

Sebagaimana mukjizat nabi Musa dan Isa yang sudah lapuk termakan zaman, begitu juga keramat wali dimasa sekarang ini. Mari, Jangan kita jadikan keramat sebagai patokan dalam menilai kewalian para wali, wilayah keramat dan tidaknya bukanlah kita yang menentukan.. Apalagi dizaman dimana ilmu pengetahuanlah yang akan menjawab segala permasalahan-permasalahan yang ada, karna wali yang dibutuhkan dewasa ini bukanlah wali yang demikian adanya, Rasul sendiri menghadapi tantangan kaum Musrikin dengan kemukjizatan al-Quran bukan yang lain, walaupun Rasul mampu.

Untuk itu mari kita tepis anggapan-anggapan yang mendeskreditkan tariqat/tasawuf, atau yang mengatakan bahwa bertasawuf/berthariqat berpotensi terhadap kemunduran atau stagnasi ilmu pengetahuan dengan hanya memandang sisi kewalian dari adanya keramat-keramat itu tadi. Bukti Syaikh Abu Hasan Ali as-Syadlili diatas merupakan bagian dari jawaban bahwa anggapan itu tidak tepat, belum bukti-bukti yang lain, seperti suksesnya pergerakan ekonomi berbasis masyarakat thariqah muridiyyah di Senegal, as-Syadliliyyah di Afrika Selatan dan lain-lain. Keberhasilan ulama-ulama tasawuf diatas merupakan bukti bahwa sebenarnya mereka disamping bertasawuf/berthariqat, mereka juga sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.

Habib Lutfi dalam setiap kesempatan pun selalu terus menerus mengajarkan tentang betapa pentingnya ilmu pengetahuan, beliau tidak pernah membatasi ilmu hanya terpatok pada ilmu agama saja. Kepada murid-muridnya beliau selalu mendukung mengenai ilmu yang dipelajari, baik itu terkait ilmu umum seperti kedokteran, pertanian,perekonomian dan lain-lain.
Dibalik kemursyidan tahriqahnya beliau juga tidak terlepas dari tokoh/ulama yang punya tanggung jawab menuntun ummatnya dari hal ikhwal keduniaan menuju hal ikhwal keakhiratan.Wallahu A’lam..!